Oleh: Dr Muhyiddin Zainul Arifin, MM*

Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak cucu Adam, kami angkut mereka di daratan dan lautan. Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah kami ciptakan”. (QS Al Isro’ 70).

Penghargaan sejajar dengan memuliakan, menghormati, mengagungkan dan memberikan pujian. Siapa gerangan yang layak dapat penghargaan?

1) Orang tua, caranya dengan berbakti dan berbuat baik pada mereka, menuruti nasehatnya, bertutur kata yang lembut dan sopan, membantu serta mendoakannya.

2) Kepada orang yang berilmu, yaitu para guru, kyai/nyai, ustadzah.

3) Kepada para tetangga dengan menyapa, bersikap ramah, membesuk saat sakit, dan seterusnya.

4) Kepada para tamu dengan menyambutnya penuh suka cita. Hadirnya tamu akan mendatangkan barokah dan keluarnya bala’.

5) Kepada pasangan hidup kita yaitu saling menghormati dan menghargai agar tercapai keluarga yang sakinah, mawaddah dan rohmah.

6) Menghargai pemimpin dan teman-teman kita dalam kehidupan di pekerjaan dan pergaulan.

Uraian di atas sudah diaplikasikan dalam kehidupan nyata di pesantren di mana santri menyebut guru ngajinya dengan panggilan kyai/nyai, gus/ning. Apa yang didawuhkan diterima santri dengan sami’an wa atho’atan. Sebagai rasa hormat santri membalikkan sandal kyai saat di masjid, ngabdi di ndalem kyai sebagai bentuk “ngalap barokah”.

Santri tawadhu’ kepada orang tuanya, gurunya dan pimpinan di tempat kerjanya. Dia akan hormat dan akrab kepada temannya, serta tetangganya.

Semoga kita bisa menjadi insan yang senantiasa memberi penghargaan kepada orang-orang di sekitar kita. Aamiin.

 

*Pondok Pesantren Al-Fatih Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here