Oleh: Dr Muhyiddin Zainul Arifin, MM*

Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS Albaqarah : 153).

Saat di rumah sakit bisa kita jumpai pandangan orang hidup tertuju pada mesin yang muncul grafiknya. Bila grafik bergerak naik turun si sakit masih “hidup”. Keluarga yang nunggu masih bernafas lega. Namun bila tiba-tiba grafiknya datar maka tangisan keluarga penunggu mulai pecah. Suasana berubah jadi lebih susah dan haru. Saat itu semua bilang “inna lillahi wa inna ilaihi rojiuunn… “. Allah sudah mengambil kembali kehidupannya.

Dinamika itu laksana grafik kehidupan yang naik turun. Orang bisnis terkadang untung juga bisa rugi. Orang bekerja terkadang semangat juga bisa malas, orang ibadah terkadang rajin saat imannya kuat tapi juga surut saat imannya susut.

Dalam dinamika hidup orang butuh keyakinan, harapan dan kepastian. Saat orang sekampung sholat istisqo’ di lapangan ada sebagian orang membawa payung. Mereka yakin doanya dikabulkan sehingga pulang sholat bisa berlindung dari hujan.

Tidur itu sebuah kematian, karena kita tidak tahu akan bangun lagi atau tidur untuk selamanya, akan tetapi kita yakin bahwa besok kita akan bangun sehingga alarm Hp tetap kita setting jam bangunnya.

Walau dinamika itu tidak ada yang pasti, tapi kita tetap butuh kepastian saat janjian.

Alkisah :
Seorang anak kecil mengeluh pada bapaknya.
Abi, saya capek sekali harus belajar tiap hari agar bisa mengerjakan ujian, itu temanku tinggal nyontek waktu ujian.

Abi, saya capek sekali harus membantu ibu belanja di pasar dan membersihkan rumah.
Temanku tinggal suruh pembantunya.

Abi, saya capek sekali harus menabung kalau ingin beli sesuatu, sedang temanku tidak perlu menabung. Semua permintaannya keturutan.

Abi, saya capek sekali harus bisa menjaga lisan dan bertutur kata yang sopan sedang temanku boleh berkata-kata yang tidak sopan

Tumpahlah tangisan anak itu dipangkuan ayahnya. Anakku pumpung masih pagi maukah engkau bersama abi lihat telaga? Ya abi. Ayo berangkat sekarang.

Mereka berdua berjalan kaki menyusuri jalan “makadam” yang sangat buruk, banyak duri ilalang, berlumpur.
Anak kecil itu mulai mengeluh lagi, abi, saya tidak suka jalan ini. Pakaianku jadi kotor, dan kakiku luka, berjalanpun susah.

Akhirnya, sampailah mereka pada sebuah pemandangan yang elok, telaga yang sangat indah, suasana sepi, pepohonan yang rindang menawan.

Subhanallah…
Luar biasa ya Abi….
Saya suka tempat ini, celoteh anak kecil itu.

Anakku tahukah kamu, kenapa tempat seindah ini begitu sepi? Karena tidak ada yang mau kesini menyusuri jalan yang rusak, banyak lumpur dan berduri.

Inilah dinamika hidup.
Butuh kesabaran dalam belajar, bersikap baik, harus rajin menabung dan direncanakan yang baik sehingga cita-citamu bisa tercapai.

Semoga dengan keyakinan yang kuat dan kesabaran semua cita-cita kita dikabulkan Allah SWT. Aamiin.

*Pondok Pesantren Al-Fatih Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here