Oleh: Dr Muhyiddin Zainul Arifin, MM*

Rasulullah bersabda :
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (HR. Muslim).

“Seorang mukmin terhadap mukmin lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain”. (HR. Muslim).

Kepedulian berarti menaruh perhatian terhadap sesuatu. Arti lain membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi orang lain dengan tujuan kebaikan.

Setelah sebulan berpuasa Ramadhan datanglah hari raya yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Semua gembira dengan “Idul Fitri”, khususnya anak-anak karena waktu memakai pakaian baru, sepatu baru, peralatan baru telah tiba. Semua dibelikan atau hadiah dari orangtua atau orang terdekatnya.

Demikian pula yang terjadi di zaman Rasulullah SAW. Saat Hari Raya Idul Fitri beliau berkunjung ke rumah-rumah warga. Dijumpainya semua warga bahagia, anak-anak bermain dengan gembira kecuali satu anak yang memakai baju tambalan dalam keadaan menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu.

Rasulullah mendekati anak itu kemudian meletakkan tangan beliau di atas kepala anak itu dengan penuh kasih sayang. Beliau bertanya : “Anakku mengapa engkau menangis? Sekarang hari raya bukan? ”
Anak kecil itu menjawab: Pada hari raya ini semua anak ingin merayakan dengan orang tua mereka dengan gembira. Aku ingat ayahku, pada hari raya yang terakhir ayahku membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru.

Sekarang ayahku sudah tiada karena mati berperang bersama Rasulullah. Aku menangis karena teringat dengan ayahku.

Seketika hati Rasulullah menjadi sedih lalu membelai kepala anak kecil itu, kemudian berkata : Anakku, hapuslah airmatamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa apa yang akan aku katakan padamu. Apakah kamu ingin aku menjadi ayahmu? Fatimah jadi kakak perempuanmu? Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana anakku?
Anak kecil itu langsung berhenti menangis dan menganggukkan kepalanya. Lalu Rasulullah membersihkan wajah dan kedua tangan anak kecil itu. Selanjutnya beliau memberi pakaian yang indah, makanan yang lezat dan sejumlah uang.

Tauladan Rasulullah inilah akhirnya setiap hari raya kita berupaya untuk membelikan pakaian baru, makanan yang enak dan memberi sejumlah uang kepada anak kita dan anak-ana kecil yang hadir di rumah kita.

Kepedulian nyata juga dilakukan oleh kyai/nyai di pesantren. Walaupun kita tahu bahwa untuk menuntut ilmu itu butuh biaya namun tidak semua santri berasal dari keluarga mampu. Bahkan banyak pesantren yang sengaja menggratiskan para santrinya selama mondok.

 

Semoga kepedulian yang ditauladankan Rasulullah bisa kita praktekkan dalam lingkungan kita masing-masing, aamiin.

*Pondok Pesantren Al-Fatih Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here