Oleh: Dr Muhyiddin Zainul Arifin, MM*

Allah berfirman :
“Wahai manusia, kami ciptakan kalian laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS Alhujurat : 13).

Warna kulit, jenis kelamin, ras, suku dan golongan yang berbeda adalah semata kehendak Allah. Semua memiliki. Kedudukan yang sama di hadapan Allah, sehingga tidak pantas kita berselisih karena “casing” yang berbeda.

Kemuliaan seseorang di hadapan Allah tidak ditentukan dari warna kulit, bahasa, rupawan, hartawan, status sosial, jenis kelamin, dan nasab keturunan akan tetapi “kemulyaan” adalah bagi mereka yang bertakwa.

Rasulullah mengangkat Bilal bin Rabah, seorang budak belian yang berkulit hitam kelam menjadi pelantun Adzan. Aisyah bercerita bahwa “Nabi melakukan seperti yang dilakukan salah seorang diantara kalian jika sedang membantu istrinya: ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad).

Walaupun budaya arab saat itu “patriarkhal” tapi Rasulullah sudah memberi “uswatun hasanah” tentang kesetaraan pasangan dan berbagi peran dalam keluarga.

Dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita masih kuat budaya ego laki-laki (patriarkhal), sehingga terkadang laki-laki belum bisa menerima bila berjalan sebaliknya.

Label undangan kenduri, manten, khitanan dan lain-lain, tertera jelas kepada yang terhormat (Yth) bapak fulan sekalian. Apabila tercantum Yth Ibu Fatimah sekalian, mungkin suaminya tersinggung dan tidak mau berangkat. Istilah “suwargo nunut neroko katut” bagi seorang perempuan masih sangat kuat mencengkeram budaya ego laki-laki.

Seiring dengan latar belakang pendidikan yang imbang antara laki-laki dan perempuan maka sektor publik yang biasa digeluti kaum lelaki juga telah dimasuki perempuan sebagai wanita karir. Sebaliknya sektor domestik (dalam rumah) yang biasa diperankan oleh perempuan digantikan oleh kaum lelaki.

Mari kita amati di sekitar pabrik yang pekerjanya mayoritas perempuan. Para suami sambil menggendong anak kecil dengan jarit dan susu dalam botol menunggu di sekitar pintu keluar pabrik. Ya…. Istri-istri mereka sedang bekerja di pabrik (publik) demi menambah income keluarga atau sekedar untuk menyalurkan aktualisasi ilmu yang diperoleh dibangku kuliah.

Lebih berat lagi seorang perempuan harus berperan ganda untuk urusan domestik dan publik. Beruntunglah para ibu yang berprofesi sebagai dosen (katakanlah di Unwaha Jombang) karena pimpinan mengijinkan membawa si “baby” untuk masuk kampus. Dosen muda bisa mengajar (aktualisasi diri) dan menyusui anak (peran yang tidak bisa digantikan) sebagai ibu.

Walaupun ada keseteraan antara lelaki dan perempuan namun hendaklah pemilihan jenis pekerjaan dan aktifitas memperhatikan kepantasan jenis kelamin. bahwa lelaki itu kuat fisik, kasar, pengayom dan perempuan itu lembut, cantik, lebih perasa hendaklah jadi rujukan untuk pemilihan jenis pekerjaan yang digeluti.

Aturan tatib pesantren memiliki kekuatan yang sama bagi santri putra dan putri. Bila mereka melanggar juga terkena sanksi yang sama. Saat pengumuman prestasi di sekolah juga dengan kriteria nilai yang sama. Namun pemisahan wilayah tetap masih dibedakan untuk menjaga secara syar’i dengan ada pengurus (pemimpin) terpisah.

Santri harus siap untuk belajar dan mengajar. Santri juga harus mau dipimpin dan siap jadi pemimpin bila dikehendaki. Jabatan itu amanah yang harus di-LPJ-kan di hadapan anggota dan Allah dengan tidak melihat jenis kelamin dan warna kulit.

Semoga nilai kesetaraan yang dicontohkan Rasulullah dapat kita tiru dalam kehidupan sehari-hari dengan pasangan hidup kita, dengan sahabat-sahabat kita, dengan pemimpin dan anak buah kita. Aamiin.

*Pondok Pesantren Al-Fatih Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here