Oleh: Dr Muhyiddin Zainul Arifin, MM*

Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah itu tidak mengubah keadaan suatu bangsa, sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri”. (QS Ar-ro’d : 11).

Dalam kamus bahasa Indonesia kemandirian diartikan keadaan seseorang dapat berdiri sendiri atau tidak tergantung kepada orang lain.

Kemandirian tumbuh dan berkembang karena faktor disiplin, komitmen terhadap kelompok, emosional, tingkah laku, dan nilai.

Disiplin itu melaksanakan aktifitas sesuai aturan main. Jam 7 jadwal masuk kantor maka paling lambat jam 7 sudah ada di kantor. Disiplin waktu, keuangan, tingkah laku.

Komitmen adalah keseriusan dalam melaksanakan aktifitas sesuai tujuan bersama. Disiplin dan komitmen itu kunci keberhasilan untuk mencapai kemandirian.

Organisasi yang menetapkan kemandirian sebagai basis geraknya harus mengawal semua person yang ada dalam organisasi untuk berdisiplin menjalankan aturan main dengan komitmen yang tinggi. Sarana pendukung komitmen adalah motivasi bekerja. “khidmat” setara dengan pengabdian hidup dapat digunakan untuk memperkokoh motivasi bekerja. Antar elemen dalam struktur orgaisasi diperlukan komitmen agar kemandirian tercapai.

Alkisah :
Suatu ketika Rasulullah dan para sahabat bepergian dan memutuskan untuk berkemah. Tibalah saat menyiapkan makanan, mereka saling berbagi pekerjaan. Seorang sahabat berkata : aku yang menyembelih kambingnya, yang lain menyahut “aku yang mengulitinya”, dan Rasulullah juga ingin ambil bagian dalam pekerjaan itu “aku yang mencari kayu bakarnya”. Mendengar inisiatif Rasulullah itu para sahabat kemudian berkata “biarkan kami saja yang mencari kayu bakar, panjenengan istirahat saja wahai Rasul”. Tapi Rasulullah menjawab “Aku tahu, kalian pasti tidak menghendaki aku mengerjakan hal ini”. Setelah itu rasul segera pergi ke padang pasir untuk mencari kayu bakar.

Kemandirian itu ditekankan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan bekerja keras agar terhindar dari sikap meminta-minta. Dalam Islam tidak dilarang menerima pemberian dari orang lain tetapi tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah.

Santri yang tinggal di pesantren dan jauh dari keluarga itu dikondisikan latihan hidup mandiri. Mereka berlatih mencukupkan kiriman orang tuanya untuk sebulan. Mereka berupaya mengelola hidupnya mukai dari makanan, pakaian, buku-buku pelajaran, berinteraksi dengan teman, gurunya baik dipondok atau sekolahan. Hal-hal kecil ini kelihatannya remeh namun dalam kehidupan kelak sangat berharga untuk melatih kemandirian anak. Kebersamaan yang terbangun bisa memunculkan komitmen dan ikatan rohani antar para santri.

Kiai Sahal pernah menulis sebuah kata-kata mutiara :
Janganlah kamu susah bila tidak dihargai, tetapi susahlah bila kamu tidak berharga. Emas tetap berharga, walaupun tidak dihargai. Namun tidak semua yang mengkilat itu pasti emas, dan yang langka lebih berharga.

Semoga konsep kemandirian dapat kita terapkan dalam kehidupan pribadi dan organisasi. Aamiin.

*Pondok Pesantren Al-Fatih Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here