Oleh: Dr Muhyiddin Zainul Arifin, MM*

Allah berfirman :
“Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (karena memandang rendah) kepada manusia, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takabur, lagi membanggakan diri”. (QS Lukman 18)

Rasulullah bersabda :
Setiap orang yang memiliki pangkat, kepalanya dipegang oleh malaikat. Jika ia bersikap rendah hati, maka Allah berkata pada malaikat itu : Angkatlah derajatnya. Tapi bila ia bersikap sombong, maka “lepaskan derajatnya”.

Rendah hati sepadan dengan tidak sombong, tidak congkak, dan tidak angkuh.

Rendah hati itu menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya, atau memuliakan orang yang lebih mulia darinya (Ibnu Hajar Al-Asqolani).

Ilustrasi dalam hidup:
Pada saat mendaki dijalan tanjakan kita cenderung mencondongkan badan ke depan dan melihat ke bawah. Hal ini kita lakukan supaya lebih mudah mendakinya. Tentu akan menyulitkan, bila kita mendongakkan kepala dan membusungkan dada.

Bila kita ingin sukses mencapai tujuan bisa diibaratkan seperti “mendaki”. Karir dalam hidup itu laksana mendaki sebuah gunung. Ilmu yang kita pelajari secara formal – informal adalah bekal yang ada dalam rangsel kita. Guru, orang tua, sahabat sebagai sumber pengisi ilmi yang kita masukkan dalam rangsel. Mereka menghantarkan kita di tepi gunung. Saat mendaki itulah akan kita ambil satu persatu persediaan untuk menyelesaikan kesulitan dalam tanjakan gunung. Berbahagialah bagi pendaki gunung (kehidupan) yang rangselnya terisi bekal yang cukup. Rendah hati itu laksana sikap tubuh kita yang condong ke depan saat mendaki. Maka “rendah hatilah” dan jangan sombong.

Rendah hati itu mau dan mampu mendengarkan, saling berbagi, dan siap minta maaf bila salah, sedang sombong sebaliknya.

Tawadhu’ sebuah istilah yang tidak asing bagi santri. Maknanya juga rendah hati. Saat “bahsul masail”, peserta sidang akan berupaya menyampaikan argumentasi berdasar literatur kitab. Setelah panjang lebar membahas maka diakhiri dengan kata “wallahu a’lam bisshowab”, hanya Allah yang Maha Tahu. Ini adalah perwujudan ucapan tawadhu’ santri. Guru yang “mbalah kitab” setelah menjelaskan panjang lebar sebuah makna “kitab”, mereka akan bilang “Wallahu a’lam bisshowab”

Tradisi “rendah hati” di pesantren selalu mendahulukan yang lebih tua usianya dan ilmunya untuk menjadi pemimpin. Di sinilah praktek menghormati yang tua dan menyayangi yang lebih muda dijalankan.

Sebuah tauladan yang pernah dicontohkan oleh Sayyidina Abu Bakar saat terpilih jadi pemimpin. Beliau dengan rendah hati menyampaikan pidatonya :
“Wahai sekalian manusia, aku telah dipilih menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian. Sebab itu jika aku berlaku baik, maka bantulah aku. Tetapi jika tidak baik, perbaikilah”.

Subhanallah, bagaimana dengan kita? Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang rendah hati dan dijauhkan dari sifat sombong. Aamiin.

 

*Pondok Pesantren Al-Fatih Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here