Oleh: Dr Muhyiddin Zainul Arifin, MM*

Allah berfirman :
“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha berat siksa-Nya”. (QS Al-Maidah 2)

Gotong royong berarti mengerahkan segala kemampuan anggota untuk terlibat saling bantu membantu dalam melaksanakan satu jenis pekerjaan dengan target tertentu.

Zaman dulu orang membangun rumah, pindah rumah, punya hajatan dikerjakan secara gotong royong. Saat ini tradisi itu berubah ke “profesionalisme pekerjaan”, dengan hadirnya pemborong rumah, EO pesta.

Tradisi gotong royong yang masih terus dilakukan di pesantren adalah “Roan”. Hari Jumat pagi biasanya para santri berbagi tugas untuk membersihkan pondok mereka. Ada yang bagian kamar mandi, halaman, kamar tidur, ruang dapur dan halaman pondok. Para santri senior dan yunior terlibat dalam “gotong royong” membersihkan “rumah” mereka menuntut ilmu.

Tradisi “Roan” yang kelihatannya sederhana itu mampu mempersatukan santri dalam konsep kerjasama. Setelah lulus dan kembali ke masyarakat para santri akan peka dengan lingkungannya. Mereka akan mampu bergaul dengan masyarakat tanpa canggung dengan kedudukan yang berbeda.

Kita ingat, betapa dahsyat kaum santri dalam belanegara begitu ada resolusi jihad tgl 22 Oktober 1945. Para santri bahu membahu “bergotong royong” mempertahankan NKRI.

Orang bijak bilang “kerjasama itu butuh kepercayaan, laksana mobil dan bensin”. Kita mungkin ada dalam koridor kerjasama (dalam mobil), tapi bila kepercayaan (bensin) tidak ada atau habis maka kita juga tidak bisa ke mana-mana. Hanya dalam mobil saja.

Semoga kita bisa menjadi insan yang khoirunnas anfauhum linnas melalui konsep kerjasama. Amin.

 

*Pondok Pesantren Al-Fatih Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here