Gus Dur : Orang Masyumi Juga Bertasawuf

0
2

News PKB Jombang – Penelitian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) tentang sikap dan Pandangan Hidup Ulama menyajikan beberapa hal menarik tentang kehidupan Islam saat ini. Dari sekian banyak temuan lapangan, yang menarik adalah kenyataan, bahwa gerakan tasawuf tumbuh subur dewasa ini. Ternyata, gerakan tasawuf itu juga menyentuh kehidupan sebuah kelompok unik pula di batang tubuh umat Islam di negeri ini, yaitu kalangan Masyumi.

Masyumi adalah singkatan dari Majlis Syuro Muslimin Indonesia. Dahulunya melambangkan partai politik satu-satunya bagi kaum muslimin. Lalu berubah menjadi salah satu partai politik Islam, setelah PSII, NU, dan Perti berturut-turut keluar dari lingkungannya. Belakangan menjadi tanda pengenal bagi kelompok yang tidak mau menerima kehadiran partai-partai Islam yang ada, setelah Masyumi sendiri dibubarkan Bung Karno di awal dasawarsa enam puluhan.

Sebagai sebuah gerakan besar, tentu orang Masyumi ada bermacam-macam pula. Ingatan segera terpaut kepada tokoh-tokoh politisi muslim lama, jika disebut nama Masyumi. Moh. Natsir, Syarifudin Prawiranegara, Moh. Roem, sebagai misal. Namun segera muncul nama-nama lain, semisal K.H. Abdullah Syafi’i. Dalam segala hal ia patut disebut “ulama NU”, tetapi dalam afiliasi politik ia ikut Masyumi. Juga orang semisal Nurcholis Madjid, yang secara cultural berada di kubu yang berkebalikan dari kubunya K.H. Abdullah Syafi’I maupun kubunya Moh. Natsir. Sekarang pun ada Masyumi (atau lebih tepat mantan-Masyumi) di pemerintahan, di Golkar dan parpol dan yang menjadi oposan politik pemerintah.

Nah, yang menarik adalah gejala baru kalangan tasawuf yang muncul sejak tahun-tahun enam puluhan. Ketika Masyumi dibubarkan, sebagian di antara warganya lalu mencari afiliasi kerohanian kepada tasawuf. Karena tasawuf dalam bentuk gerakan tarekat besar-besar (istilahnya, tarekat mu’tabarah) sudah “diborong” NU dan Perti, maka mereka lalu berpaling kepada sementara guru rohani yang “belum mapan”. Ada juga yang tetap mengikuti jalur tarekat, dengan memelihara sanad wirid mereka kepada para pendiri tarekat besar (Abdulqadir Jailani, Syadzili, Rifa’I, Naqsyabandi), namun tanpa mengikuti afiliasi organisatoris dengan para guru tarekat yang “sudah mapan” di lingkungan NU, Perti, dan sebagainya.

Lahirlah para “tokoh tasawuf lokal” yang diikuti orang-orang mantan-Masyumi itu. Mereka menulangpunggungi kerangka organisatoris gerakan “tasawuf lokal” itu, dan menjadikan gerakan-gerakan lokal itu organisasi-organisasi besar dan berjangkauan antar-daerah (kalau tidak boleh dibilang nasional). Contoh : PSM (Pesantren Sabilil Muttaqin), Shalawat Wahidiyah (berpusat di Kediri) dan tarekat pimpinan Abah Anom di Surabaya, Tasikmalaya.

Orang Masyumi memang lebih pandai berorganisasi daripada orang gerakan-gerakan lain, seperti NU, SI, dan Perti. Dus, lebih berdisiplin dan lebih ketat memegang aturan organisasi. Karenanya, tidak heran jika di beberapa tempat lalu ada konflik antara para pengurus organisasi “tasawuf lokal” dengan guru-guru mereka. Maklum, guru tasawuf sering hanya mengandalkan intuisi mereka saja, tidak begitu mau diikat oleh aturan organisasi. Dalam konflik seperti itu, jika tidak ada mekanisme yang melerai, lalu muncul sesuatu yang baru: sang guru dipecat oleh organisasi yang (secara nominal) dipimpinnya. Mana ada di dunia ini, sepanjang sejarah Islam, ada guru tasawuf dipecat, jika tidak di Indonesia. Dan tidak bisa dibayangkan hal itu terjadi di lingkungan “tarekat NU” atau “tarekat Perti”. Organisasi mengalahkan personifikasi sang guru ini adalah dimensi baru dalam kehidupan beragama kita.

Patut dipantau kelanjutan perjalanan “tasawuf Masyumi” ini, bukan?

Kumpulan Karangan Abdurrahman Wahid
Bagian Ketiga : DIMENSI-DIMENSI KEISLAMAN
Hal. 41
Sumber tanggal 2-7-1988

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here