Gus Dur: Logika Kiai Fatah

0
39

Almarhum Kiai A. Fatah Hasyim adalah profil “kiai asketik” (bahasa Arabnya: wira’i), setiap tiga hari sekali tamat membaca al-Qur’an, menggunakan waktu yang luang di sela-sela kesibukan mengajar. Memimpin pesantren Tambak Beras lebih dari seperempat abad, Kiai Fatah menampilkan sosok konvensional “kiai asketik”. Keteraturan beribadat (memimpin sholat jama’ah rawatib lima kali sehari di masjid). Juga ketekunan berpuasa sunnat. Dan ketundukan mutlak kepada fiqh sebagai hukum agama. Segala sesuatu yang dilakukan harus sesuai dengan fiqh, dalam bahasa pesantren sesuai dengan syara’ (bentuk lain dari kata syari’ah).

Kalau dilihat sepintas lalu profil semacam ini, tentunya tergambar sikap yang kaku dalam menerapkan hukum agama. Asal halal, boleh dilakukan; kalau haram, mutlak dilarang. Baik bagi dirinya, maupun dalam penerapannya kepada orang lain. Apalagi santrinya sendiri, dalam rangka mendidik mereka menjadi “pribadi-pribadi taat” kepada hukum agama.

Ternyata, dibalik ketundukkan mutlaknya kepada syari’at, Kiai ini memiliki sisi kemanusiaan yang tak terduga. Bukan kemanusiaan dalam arti karitatif, karena itu juga sisi umum kaum fiqh dan kaum syari’at. Menolong orang miskin dan yang menderita adalah bagian dari ketaatan kepada syari’at. Tentunya diutamakan yang sama-sama beragama Islam.

Sisi kemanusiaan Kiai Fatah ternyata lebih jauh jangkauannya. Tidak hanya melihat masalah dari sudut syari’at belaka, melainkan juga dari sudut hubungan antarmanusia. Ada bekas pastor melamar menjadi guru bahasa Inggris dan ilmu-ilmu pasti alam. Diterimanya eks-pastor itu mengajar di pesantren, di madrasah mu’allimat. Itu di dasa warsa lima puluhan! Ketika ditanya, Kiai Fatah hanya menyatakan kita perlu guru yang mampu mengajarkan vak-vak tersebut.

Apakah yang kemudian terjadi? Eks-pastor itu mengajar belasan tahun, mendidik banyak lulusan madrasah itu (termasuk isteri saya sendiri). Dari pergaulan dekat bertahun-tahun itu, akhirnya bapak eks-pastor lalu masuk agama Islam. Dengan kesadaran sendiri, tanpa diajak langsung. Apalagi didakwahi secara monoton dan dari pandangan sesisi belaka. Ternyata, “logika keperluan” yang dikemukakan Kiai Fatah akhirnya membawakan harmoninya sendiri, walalupun pada permulaan banyak dikritik orang.

Di Pesantren Tambak Beras itu saya menjadi keamanan merangkap sekretaris pesantren. Dalam fungsi pertama itulah saya menghadapi seorang santri yang menjadi “biang kerok” kehidupan di pesantren tersebut. Nakalnya bukan main, tiap hari melanggar aturan pesantren. Mulai dari mencuri milik sesama kawan santrinya, hingga mengganggu para tetangga pesantren, dari pencurian buah hingga ternak mereka. Puncaknya adalah si “santri biang kerok” itu tertangkap keamanan pesantren di tengah malam. Sedang membuka genting asrama santri putri, ingin mengintip mereka yang tertidur nyenyak di bilik-bilik asrama itu.

Keamanan memutuskan pengusiran santri Bengal itu, dan keputusan itu disampaikan kepada Kiai Fatah selaku pengasuh. Untuk meminta persetujuan. Ternyata sang Kiai berpendirian lain. Anak itu diserahkan orang tuanya kepada Kiai Fatah, karena sang ayah sudah tidak sanggup mengatasi kenakalannya. Justru karena itu, ia tidak boleh dipulangkan, sebelum keadaannya diperbaiki. Keamanan pesantren bingung karena membiarkan santri yang satu itu merajalela dengan kenakalannya, berarti hancurnya peraturan pesantren secara keseluruhan.

Kiai Fatah menyatakan akan mengurusi sendiri anak itu, dan demikianlah yang terjadi. Dengan kasih sayang seorang ayah, santri bengal itu lambat-laun diubahnya menjadi santri yang berprestasi baik. Sekarang, ia sudah menjadi kiai di pesantrennya sendiri, dengan santri menetap berjumlah lebih dari seribu orang. Belum terhitung murid-murid sekolah yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya, yang bersekolah setiap harinya.

Lagi-lagi menarik untuk melihat logika Kiai Fatah, yang mengutamakan tugas mengubah prilaku seorang anak nakal, daripada sekadar hanya melaksanakan aturan belaka. Ada dimensi kemanusiaan yang dalam, yang berintikan kasih sayang kepada sesama manusia dalam keutuhan manusia itu sendiri. Kasih sayang kepada kenakalan sang anak asuh, tetapi juga kasih sayang kepada potensinya yang besar sebagai manusia. Manusia, makhluk yang berpotensi untuk berkembang sejauh mungkin.

Berapa banyak dari kita, yang memiliki logika sepenuh itu, lepas dari kaidah-kaidah kaku dan tatanan yang mapan?

Kumpulan Karangan Abdurrahman Wahid
Bagian Pertama: CITRA KIAI
Sumber tanggal 26-6-1988

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here