Gus Dur: Kematian Seorang Pangeran

0
55

Pernah saya memperoleh permintaan untuk bertemu. Seorang teman menyatakan, gurunya ingin berjumpa saya, sebelum ia meninggalkan dunia fana ini. Semula ada keraguan sedikit di hati, karena orang itu adalah seorang guru kebatinan. Guru yang percaya kepada Tuhan dalam konteks kejawen, bukan konteks agama saya sendiri. Namun keraguan itu hilang ketika si “penghubung” itu menyatakan, bahwa pertemuan itu tidak untuk memaksakan sesuatu kepada saya.

Tokoh itu adalah seorang pangeran, yang oleh masyarakat setempat sudah tidak dikenal lagi dengan nama demikian. Ia dipanggil mbah, alias kakek. Dahulunya pangeran papak, kini mbah papak, di Banyuwangi. Tinggalnya di kawasan hutan tepi pantai ujung timur Pulau Jawa, lebih sejam berkendaraan mobil dari kota Banyuwangi.

Sesampai di sana, yang saya jumpai adalah seorang tua yang sudah mersik kulitnya, karena ketuaan. Mata sudah tidak melihat lagi. Sisa umur dihabiskan di atas bale-bale. Saya sampai ketika ia masih tertidur, karena memang demikian keadaannya. Sudah tidak direncanakan lagi antara bangun dan tidur. Sewaktu-waktu bisa bangun, sewaktu-waktu bisa tidur pula.

Ketika masa tidurnya selesai, sepuluh menitan setelah kedatangan saya ia langsung bertanya, “siapa kamu?” Saya jawab bahwa nama saya adalah Abdurrahman Wahid. Dalam bahasa Jawa tentu. “Wakid?” tanyanya dalam logat daerah itu secara medok, huruf h diganti dengan k, seperti haji dijadikan kaji. “Kamu Islam, ya?” lanjut pertanyaannya. Setelah saya benarkan, ia langsung mengajukan pertanyaan yang membuat saya terpana: “Mengapa kamu tidak mau mengakui saya sebagai saudara sebangsa ?. Saya ini hongwilaheng, orang Budda”. Saya jawab, bahwa saya bersedia mengakuinya sebagai saudara sebangsa. “Berani Jamin?” tanyanya. Saya jamin, kata saya. Dan ia pun menyatakan kebahagiaannya dengan ucapan pendek saja: “Bahagialah kita semua kalau begitu”.

Beberapa waktu kemudian saya dengar ia meninggalkan dunia fana ini, dan oleh muridnya dinyatakan bahwa ia “mengundurkan” saat kematiannya hanya untuk menunggu pertemuan dengan saya itu. Mengapa? Karena ia sudah bisa melepaskan tanggung jawab akan keselamatan umatnya, karena pengakuan Anda bahwa ia dan umatnya adalah saudara sebangsa. Punya hak yang sama atas bangsa ini, demikian pernyataan si murid.

Mengapakah saya terpana dengan pernyataannya, adakah saya mengakui dirinya sebagai saudara sebangsa? Karena di situlah saya menyadari, bahwa masih cukup banyak warga bangsa ini yang ketakutan dengan agama saya. Konon, agama saya datang kemari dengan cara-cara damai. Melalui perdagangan dan perkawinan campuran. Melalui tasawuf. Melalui pendidikan, dan seterusnya. Semuanya cara-cara damai.

Kalau memang klaim itu benar, mengapakah masih ada yang ketakutan kepada Islam di sini? Mungkin, karena ulah kaum muslimin sendiri. Ulah mereka yang meneriakkan kebenaran agama Islam dengan sikap tidak menghormati hak orang beragama lain untuk mencari kebenaran menurut cara masing-masing. Sikap memaksakan kehendak atas orang lain, tanpa menanyakan setujua atau tidaknya mereka kepada sesuatu yang dipaksakan itu. Saya menjadi terpana oleh ketidakmampuan kaum muslimin untuk mengalahkan orang dengan budi luhur, bukannya dengan sikap kasar.

Kalau demikian tentulah keterpanaan itu harus saya tebus dengan mengembangkan sikap lebih menghormati pihak lain dalam pergaulan antar-keyakinan dan antar-keimanan. Tidak sia-sialah seorang Pangeran menunda saat kematian, jika hal itu mampu saya kembangkan, tentu mula-mula pada diri saya sendiri, baru kepada orang lain. Pertanyaannya, mampukah saya mengajak umat saya untuk menempuh jalan sulit ini?

Kumpulan Karangan Abdurrahman Wahid
Bagian Kedua: KEARIFAN HIDUP
Sumber tanggal 2-7-1988

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here