Gus Dur: Islam dan Hubungan Antar Umat Beragama di Indonesia

0
51

News PKB Jombang – Hubungan antarumat beragama tampaknya kembali mengalami cobaan dan ujian berat dua tahun terakhir ini. Kalau diikuti dengan cermat, tampak bahwa hal ini masih akan berlangsung cukup lama.

Memulihkan hubungan yang semula tampak harmonis dan kemudian mengalami keretakan bukanlah hal yang mudah. Namun, masa depan kita sebagai bangsa banyak tergantung pada kemampuan pemulihan hubungan itu. Kegagalan dalam hal ini dapat mengakibatkan ujung traumatik yang mengerikan: terpecahbelahnya kita sebagai bangsa.

Karenanya, mau tidak mau kita harus mengerahkan kemampuan sekuat tenaga untuk mewujudkan pemulihan hubungan antar umat beragama itu. Untuk keperluan itu, kita terlebih dahulu harus memahami sebab-sebab paling dasar dari retaknya hubungan dan sisi multidimensional dari kemelut yang dihadapi. Tanpa mengetahui penyakitnya tentu tak akan ditemukan obatnya, dan penyembuhan tidak akan mungkin dilakukan.

Pada hakekatnya, sebuah masyarakat heterogen yang sedang tumbuh, seperti bangsa kita, tentu sulit untuk mengembangkan saling pengertian yang mendalam antara beraneka ragam unsur-unsur etnis, budaya daerah, bahasa ibu, dan keagamaannya. Walaupun tidak berkembang salah pengertian mendasar antara unsur-unsur itu, paling tidak tentu saling pengertian yang tercapai barulah bersifat nominal belaka. Dengan kata lain, suasana optimal yang dapat dicapai bukanlah saling pengertian, melainkan sekedar sangat kurangnya kesalahpahaman.

Pola hubungan “harmonis” seperti itu, dengan sendirinya tidak memiliki daya tahan yang ampuh terhadap berbagai tekanan yang datang dari perkembangan politik, ekonomi, dan budaya. Kerukunan yang ada adalah kondisi yang rapuh, yang mungkin dapat diistilahkan dengan ungkapan dari masa perang dingin antara negara-negara adikuasa dahulu: Hidup berdampingan secara damai (peace full co-existence).

Sudah tentu kedamaian yang terselenggara hanyalah sekedar sikap bertetangga baik, tanpa rasa senasib sepenanggungan. Jika orang merasa sesama bersaudara. Hubungan baik yang disifati hanya oleh tata krama dan rasa saling menghormati secara lahiriah belaka. Persambungan rasa tentu akan sangat sedikit terjadi dalam keadaan demikian.

Perbedaan sikap dan pandangan, apabila terjadi perbenturan kepentingan yang dapat membuat ketenangan suasana berubah sewaktu-waktu barulah menjadi kegalauan. Mereka yang tadinya saling hormat menghormati tiba-tiba dapat bersikap saling salah menyalahkan. Mereka yang tadinya santun satu sama lain sekonyong-konyong dapat bersikap saling salah menyalahkan. Suasana kejiwaan yang dipenuhi rasa terkejut karena semula keadaan adalah baik-baik saja, menambah intensitas rasa “kehilangan” atas ketenangan semula, hal itu lalu menambahkan rasa tambah parahnya keadaan lebih dari kenyataan yang sebenarnya berlangsung.

Dari apa yang diuraikan di atas, menjadi nyata bagi kita, bahwa masalah pokok kita dalam hal hubungan antar umat beragama adalah pengembangan saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan. Kita hanya akan mampu menjadi bangsa yang kokoh, kalau umat agama-agama yang berbeda dapat saling pengertian satu sama lain, bukan hanya sekedar saling menghormati. Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging). Bukannya hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain.

Karena Islam adalah agama golongan penduduk mayoritas bangsa kita, maka menjadi sangat menyedihkan bahwa sampai hari ini sangat luas sikap negatif mereka kepada pihak-pihak lain. Materi khotbah dan ceramah para pemimpin Islam, dari kalangan ‘ulama hingga kalangan cendekiawan, masih diselimuti oleh ketidakmampuan memahami masalah secara baik. Rasa ketakutan umat mereka akan diambil pihak lain masih menjadi topik dominan dalam literatur keagamaan maupun presentasi lisan yang disajikan kepada umat mereka.

Bukan rahasia lagi, masih besar jumlah tokoh-tokoh Islam di negeri kita yang menganggap orang Kristen, Hindu dan Yahudi sebagai musuh (enemy), paling tidak sebagai lawan. Memang kondisi kaum muslimin sangat memprihatinkan, karena memang mayoritas bangsa kita, yang nota bene beragam Islam masih dicengkram oleh kemiskinan.

Konsekwensi logis dari kenyataan itu sebenarnya adalah keharusan bagi gerakan Islam untuk memajukan umat mereka. Ini berarti keharusan untuk melakukan transformasi multidimensional atas kehidupan umat yang mereka pimpin, bukannya mencari kambing hitam atas keterbelakangan dan ketertinggalan sendiri.

Ini tidak berarti para pemimpin Islam disegenap tingkatan harus menutup mata terhadap semua ekses yang terjadi dalam kehidupan beragama di negeri kita. Harus diambil langkah-langkah untuk menangani dan mencegah terulangnya ekses-ekses itu, termasuk yang dilakukan cara penyebaran agama terlalu agresif yang dilakukan oleh sementara kelompok penganut agama dari golongan minoritas. Namun, cara penanganan dan penangkalan haruslah dilakukan dengan bijaksana tanpa harus melakukan generalisasi terhadap semua warga umat dari agama tersebut. Tentu kaum muslimin di negeri kita tidak mau dipersalahkan atas kegiatan negatif yang dilakukan oleh minoritas muslimin di negeri-negeri lain.

Kenyataan sesederhana ini dan kearifan seperti dituntut di atas memang tidak mudah diwujudkan, apalagi untuk dikembangkan dalam lingkup yang luas. Namun, kita tidak punya pilihan lain, kalau masih diinginkan bangsa kita yang demikian heterogen dapat mengembangkan diri menjadi bangsa yang kokoh sendi-sendi kehidupannya dalam memasuki abad XXI nanti. Semua pihak dikalangan muslimin memikul tanggung jawab untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap semua warga masyarakat bangsa kita, karena hanya dengan cara demikian Islam dapat tumbuh menjadi kekuatan pelindung bagi seluruh penduduk negeri kita ini secara keseluruhan.

Kumpulan Karangan Abdurrahman Wahid
Bagian Kedua: DIMENSI-DIMENSI KEISLAMAN
Sumber Kompas

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here